City of Hidden Paradise , Takengon [Part 1]

Takengon – H1

Perjalanan ini saya lakukan setelah menjalani serangkaian kegiatan bersama The SuperLeader dengan program “Kelas Kreatif” di Desa Araselo Kecamatan Sawang pada awal Oktober lalu. Sore itu setelah berpisah dengan team The SuperLeader di Kota Bireun, saya , Hijrah Saputra dan Arie Yamani kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kota Takengon dengan menggunakan transportasi L-300. Mobil yang kami tumpangi lumayan nyaman untuk ukuran minibus, selain supir yang menurut saya lihai , pada saat itu penumpang hanya kami bertiga dan ditambah 1 penumpang lain yang duduk disebelah supir , jadi bisa dikatakan kondisi dalam mobil tidak riuh dan cukup nyaman untuk istirahat, MERDEKA !

Matahari mulai terbenam, dan angin dingin mulai merasuki kedalam mobil . Hal ini menandakan kami sudah cukup dekat dengan surga dibalik pegunungan, dan dari kejauhan sudah terlihat banyak lampu kota yang berwarna-warni berasal dari Kota Takengon. Saya pun duduk dengan tegak sembari membuka kaca mobil dengan excited.

DSC_1135

Kota Takengon

Waktu menunjukkan pukul 8 malam , kami tiba di Kota Takengon dan langsung mencari penginapan . Pilihan kami jatuh pada Hotel Darussalam yang berlokasi di Jalan Lintang dengan rate harga 150rb/malam (2 bed) . Dan seperti biasa menempuh perjalanan yang panjang tentunya akan menguras banyak tenaga dan pikiran, halah ! . Perut ini terus memberontak untuk diberi asupan, kami pun mulai mencari makan malam ke seputaran terminal angkutan yang berdekatan dengan penginapan , malam itu sangat dingin namun kedua teman saya Hijrah dan Arie terlihat kompak tanpa menggunakan sweater ataupun jacket . “Mau nyoba adaptasi dengan iklim Takengon” , begitu mereka berkomentar dan saya hanya sedikit menaikkan alis dengan tanggapan mereka . FYI , di Takengon kita dapat menikmati bubur kacang hijau dimalam hari dan disini juga tersedia roti bakar arang yang memang belum pernah saya temui. Seperti biasa , dimanapun saya berada tetap saja nasi goreng yang menjadi primadona bagi saya (walaupun disini nasgornya biasa aja ). Setelah menikmati makan malam kami kemudian kembali ke penginapan dengan mencoba jalur yang berbeda dan tidak disangka kami menemukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menjadi incaran awal untuk memperoleh informasi.

Takengon H-2

Pagi itu , setelah menikmati sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju kantor DISBUDPAR untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan pariwisata di Kota Takengon dengan berjalan kaki. Sesampainya disana kami langsung menemui kepala bagian bidang budaya dan objek wisata . Kepala bidang tersebut langsung membawa kami menuju museum mereka yang bebentuk rumah khas Gayo (suku asli dataran tinggi Aceh Tengah) dan menunjukkan beberapa barang peninggalan , foto masa lalu , dan menginformasikan beberapa tempat yang direkomendasi untuk dikunjungi.

DSC_0883

Rumah adat Gayo dengan motif khasnya

DSC_0899

Pemandangan diseputaran kantor Disbudpar

Setelah berbincang banyak di museum tersebut , kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi beberapa industri kopi yang ada di Kota Takengon menggunakan transportasi becak motor dengan ongkos 7rb ( jauh/dekat rate becak 5-10rb ). Industri kopi yang pertama kali kami kunjungi adalah Industri Kopi milik H. Rasyid , industri ini merupakan salah satu industri kopi yang paling dikenal di Kota Takengon dan telah melakukan perdagangan ekspor kopi ke berbagai negara seperti Korea, US, Jepang , dll . Sesampai di Industri Pak Rasyid kami langsung disambut ramah oleh para karyawannya dan beliau sedikit bercerita mengenai bencana gempa yang baru saja dialami yang merubuhkan bangunan gallery pada bagian belakang pabrik dan saat ini mereka sedang bersiap membangun kembali, salute ! lalu kami disuguhi minuman kopi diruang dapur sementara yang dipakai untuk menyambut tamu  . Arabica Gayo Longberry menemani ngobrol kami pada saat itu sambil melihat langsung proses Roasting kopi dari mesinnya.

DSC_0956

Industri kopi H. Rasyid

DSC_0904

Kegiatan sortir kopi terpaksa dilakukan dibawah tenda darurat

DSC_0933

Kopi yang sedang di sangrai (roasting)

Setelah ngobrol selama 2 jam , kami melanjutkan perjalanan menuju industri kopi selanjutnya yaitu Aman Kuba Coffee. Industri Aman Kuba ini merupakan industri kopi pertama kali di Takengon yang berdiri sejak Tahun 1958 dan kini industri ini dipimpin oleh penerusnya yang bernama Mudirul Kauni, disana lagi-lagi kami disuguhi kopi Arabica Specialty dan ngobrol banyak hal mengenai industri kopi Aman Kuba, pada saat yang sama kami juga berkempatan melihat langsung peralatan produksi yang pertama kali digunakan pada awal berdirinya. Aman Kuba luar biasa mempertahankan ciri khasnya sebagai pelopor industri kopi di Takengon.

DSC_1024

Pelopor Industri Kopi di Takengon, Aman Kuba

DSC_0999

Peralatan produksi sejak 1958 yang sudah “pensiun”

DSC_0988

Arabica Specialty

Sepanjang obrolan kami yang lebih banyak dibidang kopi kemudian berakhir dengan sesi foto bersama . Waktu yang sudah menunjukkan waktu makan siang membawa kami kesebuah restaurant yaitu Restaurant Hotel Bunda , dan lagi-lagi nasi goreng menemani santap siang saya . Nasi Goreng kini dan nanti !!

Cafe Batas Kota menjadi tujuan akhir kami pada hari ke-2 di Kota Takengon, disini kami akan bertemu seorang rekan bernama Win Ruhdi Bathin yang juga seorang pemerhati sosial para Petani Kopi dan juga potensi alam Takengon. Kami sempat mencicipi kuliner Gayo yaitu Asam Jing , Asam Jing sejenis gulai ikan dengan bumbu yang terbuat dari terong belanda , unik bukan ? seporsinya dibanderol 15 rebu aja lengkap dengan nasi. Cihuy !

DSC_1055

 

Asam Jing

Banyak hal yang kami bahas disini dari kuliner khas, perdangan kopi dan kami juga berkesempatan untuk sharing bersama Komunitas Lintas Gayo mengenai potensi usaha wisata di Kota Takengon. Tanpa terasa obrolan yang menarik ini membuat kami lupa waktu , dinginnya malam menyadarkan kami untuk segera kembali ke penginapan dan tentu saja moment ritual foto bersama tidak kami lewatkan.

DSC_1067 (1)

Pose bersama Komunitas Lintas Gayo (kiri-kanan : Arie , Mahyudin, Saya , Salihin , Iwan, dan Hijrah)

Akhirnya usai sudah perjalanan kami dengan tema ekspedisi kopi dihari pertama , agenda esok hari akan kami lanjutkan dengan ekspedisi menelusuri surga-surga lainnya yang ada di Kota Takengon ini .

Bersambung …

 

Advertisements

One thought on “City of Hidden Paradise , Takengon [Part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s