Menggapai Asa dan Cita di Desa Araselo

Azan jum’at berkumandang, saya mulai melangkahkan kaki menuju mesjid untuk melaksanakan ibadah sholat jum’at seperti biasa . Matahari bersinar dengan terik disiang itu. Ini adalah hari yang saya nantikan , dimana saya dan kedua rekan saya Hijrah Saputra dan Arie Yamani akan memulai ekspedisi negeri kopi Takengon selama 4 hari.

Tanpa diduga , acara kami bersamaan dengan program kelas kreatif yang diadakan oleh komunitas The Superleader yang di koordinator oleh Muhammad Fathun. Sejak awal Fathun yang mengetahui rencana kami untuk berekspedisi kemudian mengajak kami bergabung dalam program terlebih dahulu karena destinasi kami kebetulan searah.

Perjalanan dimulai dari Banda Aceh menuju Sawang (Aceh Utara) …. dan doa demi keselamatan kami ucapkan dalam hati.

Sore itu, Tuhan menguji kekuatan kami, tepatnya di tengah gunung seulawah mobil yang kami tumpangi mengalami patah poros (ass) ban belakang yang mengakibatkan mobil sedikit tergelincir . Alhamdulillah kami selamat πŸ™‚

DSC_0507

aspal yang membekas akibat berbenturan dengan poros ban mobil

DSC_0523

kondisi gelap di tengah gunung tidak menghalangi kami menikmati makan malam

Setelah berusaha dengan mencari solusi untuk dapat terus melanjutkan perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Saree yang tidak begitu jauh dari lokasi dan meminta bantuan penduduk desa seberang untuk menjaga mobil (dengan upah tentunya) agar esoknya mobil dapat diperbaiki.

DSC_0528

Hotel tempat kami bermalam di Saree, Aceh Besar

Esoknya mobil diperbaiki dengan mendatangkan sparepart dari Kota Banda Aceh, dan kami pun melanjutkan perjalanan disiang hari. Perjalanan menuju sawang kali ini lebih mulus dan tanpa hambatan berarti hingga akhirnya kami menemui seorang pria tangkas dan gagah berani .. penasaran ? trus scrol ke bawah ya πŸ™‚

Tanpa kami duga , Desa Araselo itu berjarak sekitar 17 km dari pusat pemerintahan desa. Jarak tersebut sebenarnya tidak jauh , namun medan berbukit dan jalan bebatuan menjadikan perjalanan tersebut penuh tantangan dan memacu adrenalin, terutama driver kami Fathun akan lebih merasakan sensasi itu πŸ˜€ . Selama perjalanan kami yang diguyur hujan , kami melalui beberapa jembatan , bukit menanjak dengan jalan berbatu bahkan sempat dihadang seekor ular hutan, konon daerah ini merupakan basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ketika mereka bergerilya .

Sekitar pukul 11 malam, tibalah kami dikediaman seorang Ibu yang usianya sudah mulai senja. Kami menyapanya dengan panggilan Emak, Emak menyuguhi kami hidangan makan malam dengan ramahnya dan anak-anak tetangga rumah Emak pun ikut menyambut kami malam itu . Benar-benar malam yang khidmat rasanya ..

DSC_0589

Dijamu dengan masakan Emak

DSC_0602

Anak-anak menyambut kedatangan kami dengan sikap hangat dan polosnya

Setelah menikmati hidangan dan bercengkarama bersama Emak dan anak-anak , kami pun istirahat untuk memulai acara utama yaitu Kelas Kreatif pada esok hari .

Udara pagi terasa dingin, rongga pernapasan ini dibuat segar dengan sejuknya udara pagi hari Desa Araselo. Pepohonan lebat dan hijau serta pegunungan yang terlihat eksotis mewarnai panca indera saya pada saat itu . Desa Araselo memang indah …

DSC_0606

Suasana didepan rumah Emak

DSC_0611

Pemandangan indah yang dapat dilihat dari belakang rumah Emak

Acara utama kami pun dimulai, seorang pengajar dari “Indonesia Mengajar” memimpin perjalanan kami menuju sekolah . Ari Hendra , itulah nama pengajar yang saya katakan gagah berani tersebut . Beliau berasal dari Magelang (Jawa Tengah) dan telah mengajar di Desa Araselo ini hampir 1 tahun, banyak pengalaman unik dan menegangkan yang diungkapkan oleh Ari . Desa ini menyimpan banyak cerita dan kisah kelam masa lalu terutama masa konflik pertikaian. Kini semua telah berubah , Desa ini hidup damai dan mulai menata hidup untuk menyongsong masa depan cerah πŸ™‚

DSC_0646

Ari Hendra memimpin kami berjalan menuju sekolah dengan jalan berbukit dan berbatu

DSC_0650

Kondisi perjalanan menuju sekolah

Tibalah kami disekolah, gedung sekolah ini masih terlihat kokoh berdiri tegak diatas perbukitan . Tampak bendera Indonesia berkibar dan tertiup angin pada tiang bendera. Β Anak-anak dengan sigap meluncur kedalam kelas . Berhubung tempat yang terbatas , kelas kreatif kami adakan diluar ruangan kelas . Anak-anak ini sangat bersemangat dan antusias , Hijrah Saputra dan Muhammad Fathun kemudian mengkoordinir acara ini dan dibantu beberapa rekan seperti Rizka Nadya , Eza , Ari Yamani , Saya sendiri dan tentunya Pak Guru Ari Hendra .

DSC_0685

Antusiasnya anak-anak mengikuti kelas kreatif

DSC_0692

Bang Komo dan Rizka Nadya membimbing anak-anak menyelesaikan tugasnya

Kelas Kreatif ini berlangsung selama 2 jam , dan hasilnya anak-anak ini menyelesaikan karya mereka dengan baik . Boneka kertas yang bernama Kokoro ini rampung dikerjain dengan baik dan tak lupa mereka berpose dengan manis bersama kami . Terlihat ekspresi ceria dan bangga pada wajah mereka yang lucu dan polos πŸ˜€

DSC_0733

Pose bersama dengan anak-anak dan karya mereka

DSC_0746

Ari Hendra gak mau kalah , keep smilee πŸ˜€

DSC_0660

Bang Komo dan Muhib (peserta kelas kreatif) kompakan

Program Kelas Kreatif telah usai , dan kami kembali ke rumah emak . Sebelum pulang anak-anak melantunkan lagu yang mereka ciptakan khusus untuk kedatangan kami , benar-benar mengharukan !

Sesampai dirumah Emak, kami dijamui makan siang . Dan benar saja mendaki gunung menuju sekolah Β menjadikan kami makan dengan sangat buas bagaikan tidak makan dari SD .. hahaha.

Siang itu kami melanjutkan perjalanan pulang, emak melepas kepergian kami dengan meninggalkan pesan “jangan lupa untuk kembali jenguk Emak … ” , pengalaman berkesan, penuh haru dan tantangan . Saya , Hijrah Saputra dan Ari Yamani kemudian akan melanjutkan ekspedisi ke negeri kopi Takengon sementara Muhammad Fathun dkk bertolak ke Banda Aceh.

Advertisements

5 thoughts on “Menggapai Asa dan Cita di Desa Araselo

  1. Janji mau komen kemarin rupanya ngga sempat πŸ™‚ ya uda komen sekarang aja dehhhh….

    Ihan komen soal teknisnya aja ya Tommy, kalau ide cerita sih ngga perlu dikomen karena itu sangat tergantung selera penulisnya.

    Soal teknis ada beberapa catatan. Walaupun kita nulis di blog tapi ngga ada salahnya kita menulis dengan bahasa yang baik dan benar kan :-D, contohnya penggunaan tanda baca yang benar, penggunaan huruf kapital dan keterangan kata kerja ada keterangan tempat.

    Misalnya untuk nama hari selalu diawali dengan huruf besar Jumat, bukan jumat. Trus, kalau keterangan tempat ada pemisahan setelah kata depan contohnya “di rumah” bukan “dirumah”. Sebaliknya kalau kata kerja disambung contohnya “dipetik” bukan “di petik”

    Itu aja dulu hahahha…..:-D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s